Kamis, 03 November 2011

PEMANFAATAN BONGGOL PISANG GEPOK

PBAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman pisang (Musa sp) merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara yang kini sudah tersebar luas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang (Satuhu, 2004). Tanaman pisang tersebar mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi, baik yang dibudidayakan di lahan khusus maupun ditanam sembarangan di kebun atau di halaman. Hampir setiap pekarangan rumah di Indonesia terdapat tanaman pisang, hal ini dikarenakan tanaman cepat menghasilkan, dapat berlangsung lama, mudah ditanam dan mudah dipelihara (Sunarjono, 2004).Tanaman pisang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia. Selain buahnya, bagian tanaman yang lain seperti bonggol, daun, batang dan jantungnya juga dapat dimanfaatkan. Tetapi dari seluruh bagian tanaman pisang, buah pisang dan daun pisanglah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Buah pisang selain dimakan dalam bentuk segar, dapat juga diolah menjadi pisang goreng, keripik pisang, sale, dan lain-lain. Daun pisang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembungkus makanan. Jantung pisang (bunga pisang) juga dapat diolah menjadi tumis jantung pisang atau sebagai
bahan sayur yang lainnya.Dari seluruh bagian tanaman pisang, bagian yang jarang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah bonggol pisang. Pemanfaatan dari bagian tanaman

Pisang tersebut sampai saat ini masih sangat terbatas. Misalnya bonggol
pisang dapat dijadikan kripik, selain itu bonggol pisang dapat dibuat alcohol melalui fermentasi. Fermentasi dapat diartikan sebagai disimilasi anaerobik senyawasenyawa organik yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Fermentasi juga merupakan proses penguraian gula menjadi alkohol dan karbondioksida yang disebabkan aktivitas sel-sel khamir (Said, 1987). Karena bonggol pisang
basah mengandung karbohidrat sebesar 11,6 g dan bonggol pisang keringmengandung karbohidrat sebesar 66,2 g, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan cuka melalui proses fermentasi. Bonggol pisang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan cuka melalui proses fermentasi. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan cuka yang semakin bertambah, dimana cuka dibutuhkan oleh industri yang makanan, laboratorium (kimia, biologi), pabrik
farmasi dan sebagainya. Cuka adalah suatu kondimen yang dibuat dari berbagai bahan yang bergula atau berpati melalui fermentasi alkohol yan diikuti oleh fermentasi asetat. Produk ini merupakan suatu larutan asam asetat dalam air yang megandung cita rasa, zat warna dan substansi yang terekstrak, asam buah,
ester-ester, garam-garam organik dari buah, yang berbeda-beda sesuai dengan asalnya (Desrosier, 1988).

            Cuka dapat dimanfaatkan sebagai pengatur keasaman pada industry
makanan, minuman fungsional misal: cuka apel, sebagai bahan baku untuk pembuatan bahan kimia lain vinil 
asetat, selulosa asetat, asetat anhidrit, ester
asetat, dan garam asetat (Irfani, 2006). Cuka yang dijual harus mengandung
paling sedikit 4% (4 g asam asetat per 100 ml), harus segar dan dibuat dari
buah-buahan yang layak dikonsumsi serta harus diberi label yang semestinya
(Desrosier, 1988).
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Noeraini (2005), bahwa banyaknya kadar asam cuka yang dihasilkan pada apel banyak dipengaruhi oleh penambahan induk cuka. Pada penambahan induk cuka 3 ml dihasilkan cuka maksimal 3,1195 g/ml sedangkan penambahan induk cuka 4,5 ml dihasilkan cuka maksimal 4,2364 g /ml. Dalam penelitian Maryuni (2006), biji mangga varietas kuweni dan arumanis digunakan dalam proses fermentasi asam cuka. Dalam penelitian ini kadar asam asetat dan alkohol pada varietas biji arumanis lebih tinggi dibandingkan pada varietas biji kuweni. Pada biji mangga varietas arumanis mengandung karbohidrat sebanyak 13,1 g dan menghasilkan rata- rata kadar asam asetat sebesar 4,31% dan kadar alkohol sebesar 1,43%, sedangkan pada biji mangga varietas kuweni mengandung karbohidrat sebanyak 11,9 g dan menghasilkan rata-rata kadar asam asetat sebesar 3,49% dan kadar alcohol sebesar 0,81%. Tinggi rendahnya kadar asam asetat dan alkohol pada cuka dipengaruhi oleh penambahan induk cuka dan banyak sedikitnya kadar karbohidrat setiap gramnya.
Berawal dari latar belakang di atas, maka peneliti mengambil judul
penelitian: “PEMANFAATAN BONGGOL PISANG KEPOK  SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN CUKA”

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh penambahan induk cuka terhadap kadar asam asetat
    pada cuka bonggol pisang kepok?
2. Berapa kadar asam asetat pada cuka bonggol pisang kepok?
3. Berapa kadar alkohol cuka bonggol pisang kepok pada fermentasi I dan
    II?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh penambahan induk cuka terhadap kadar asam
    asetat pada cuka bonggol pisang kepok?
2. Untuk mengetahui kadar asam asetat pada cuka bonggol pisang kepok.
3. Untuk mengetahui kadar alkohol cuka bonggol pisang kepok pada
    fermentasi I dan II.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi bahwa bonggol pisang kepok dapat dijadikan
   sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan cuka.
2. Memberikan nilai lebih terhadap bonggol pisang kepok di bidang
   fermentasi.
3. Dapat dipakai sebagai bahan perbandingan dan acuan penelitian sejenis.

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian cuka
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

2.2 Pengertian bonggol pisang
       Pisang memiliki beberapa bagian. Salah satu dari bagian-bagian pisang tersebut yaitu bonggol pisang.
Bonggol pisang merupakan batang tanaman pisang yang berupa umbi batang (batang aslinya).
Bonggol pisang biasanya di gunakan untuk bahan baku pembuatan keripik dan cuka. Bonggol pisang, 
yakni bagian terbawah dari batang semu yang berada di dalam tanah, mengandung banyak cairan yang bersifat
 menyejukkan dan berkhasiat menyembuhkan.
 
 
BAB III
METODE PENELITIAN
 
3.1 Jenis Penelitian
               Jenis penelitian yang di pakai oleh penulis adalah Penelitian Study Pustaka yaitu dengan mencari 
sumber-sumber dari internet. Penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti bonggol pisang yang dapat di 
jadikan cuka. Disini penulis meneliti apakah bonggol pisang dapat di olah menjadi cuka dan bagaimana proses
pembuatannya.
 
3.2 Alat dan Bahan 
     Alat:
1.      Panci
2.      Pisau
3.      Talenan
4.      Baskom
5.      Alat saring
6.      Stoples
 

Bahan :
1.      20 kg gula pasir
2.      120 gr ammonium sulfit  (NH4)2SO3
O.5 kg ragi roti(Saccharomyces cerevisiae)
3.    25 liter induk cuka (Acetobacter aceti). 
      4.   Bonggol pisang

3.3 Cara membuat Cuka bonggol pisang Pisang
1. Mula-mula kumpulkan bonggol pisang sebanyak 100 kg dan lakukan proses produksi selama 
4-5  minggu.
1.       Bonggol  pisang dipotong-potong atau dicacah, lalu direbus dengan air sebanyak 150 liter.       Saring dengan kain dalam stoples. Berdasarkan uji lapangan, bahan awal bonggol pisang yang direbus itu akan menghasilkan cairan bonggol pisang kira-kira 135 liter, bagian yang hilang 7,5 kg, dan sisa bahan padat sekitar 112,5 kg.
5
 Setelah disaring ke stoples, cairan bonggol pisang ini perlu ditambah ammonium sulfit dan gula pasir.
3.  Didinginkan dan tambahkan ragi roti. Biarkan fermentasi berlangsung satu minggu. Hasilnya disaring lagi. Dari 135 liter cairan bonggol pisang setelah difermentasi dan disaring menjadi130  liter larutan beralkohol, dan lima liter produk yang tidak terpakai. Pada larutan beralkohol itu ditambahkan induk cuka, dan biarkan fermentasi berlangsung selama tiga minggu.
4. Hasil fermentasi larutan beralkohol dididihkan. Nah, dalam kondisi masih panas, cuka pisang dimasukkan ke dalam botol plastik. Lalu segera ditutup dan disimpan dalam temperatur kamar. Biasanya pemasaran cuka pisang dikemas dalam plastik berukuran 40 ml, 60 ml, atau 80 ml. Jika dihitung, dari 100 kg bonggol pisang akan diperoleh sekitar 120 liter cuka pisau.


BAB IV
PENUTUP
SIMPULAN DAN SARAN
4.1. Simpulan
            Dari penelitian yang telah kami lakukan, kami dapat menyimpulkan bahwa bonggol pisang dapat dijadikan bahan dasar pembuatan penyedap yang memberikan rasa kecut pada makanan, seperti cuka. Hasil cuka yang menggunakan bahan dasar bonggol pisang lebih bagis dibandingkan cuka yang dibuat dari bahan lain. Tidak hanya cuka saja yang dapat dibuat dari bahan dasar bonggol pisang, seperti keripik pisang.

 4.2  Saran
            Saran yang dapat penulis berikan untuk semua masyarakat yang menyukai cuka untuk di campuri ke makananyang tak lain sebagai bahan menyedap, adalah sebagai berikut :
1.      Bagi pembuat cuka jangan terlalu banyak memberikan bahan pengawet karena bahan pengawet terlalu banyak mengandung bahan kimia.
2.      Bagi masyarakat di kota mana saja dapat menggunakan bongkol pisang kapok sebagai bahan dasar apasaja selain cuka untuk menambah penghasilan.
3.      Bagi petani yang menanam pohon pisang agar lebih meningkatkan nilai tambah bongkol pisang dengan diolah menjadi aneka penganan yang bervariasi.
4.      Bagi peneliti lainnya dapat mencoba pohon pisang, daun pisang atau bagian pisang yang mana saja dijadikan bahan penyedap maupun makanan

Selasa, 01 November 2011

Hippopus Percellanus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

      Warna-warni karang tumbuh menjulang di dasar laut seperti tajuk-tajuk pohon hutan yang rimbun. Berbagai jenis ikan warna-warni melayang-layang di atas hamparan terumbu karang, indah sekali. Namun kalau lagi apes bisa-bisa tersengat karang api, kena racun sirip ikan lepu, diserang barakuda atau hiu ganas. Keanekaragaman hayati merupakan sesuatu yang sangat unik untuk dibahas. Bivalvia merupakan kelas moluska laut dan air tawar dikenal untuk beberapa waktu sebagai Pelecypoda, tapi sekarang sering disebut hanya sebagai bivalvia. Seperti Gastropoda dan Cephalopoda, yang Pelecypoda istilah merujuk pada hewan itu sendiri sementara Bivalvia hanya menjelaskan shell. Nama lain untuk kelas termasuk Acephala, Bivalva, dan Lamellibranchia. kelas berisi sekitar 30.000 spesies, termasuk kerang, kerang, tiram dan remis.
            Kima adalah nama sejenis kerang laut dan terdapat dalam beberapa spesis, antaranya lapiran, kima bohe' dan sollot-sollot (bersaiz kecil dan menyelit di celah-celah permukaan batu). Kima dijadikan lauk dalam makanan tradisi Orang Bajau. Kima ini boleh dimakan mentah-mentah (inta') setelah dihiris atau dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan air limau dan lada serta rempah-ratus yang lain mengikut selera orang yang hendak makan. Ia juga boleh dimasak bersama sayur. Ada juga kima yang dikeringkan di bawah sinar matahari dan biasanya ia dimasak bersama sayur. Di daerah perairan terdapat banyak kima , sesungguhnya masih banyak lagi jenis-jenis kerang yang beranekaragam , tetapi dalam karya ilmiah ini saya hanya mengambil satu topik yaitu mengenai Hippopus Percellanus Kima Cina,
      Di daerah perairan seperti pantai banyak ditemukan kerang atau benda-benda langka, akan tetapi manusia tidak menyadari atas sesuatu yang menakjubkan dibalik benda-benda langka tersebut. Hampi saja banyak jenis-jenis karang yang langka dan menarik hamper punah, inilah yang akan menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati di daerah perairan.
            Keanekaragaman hayati merupakan sumber kekayaan alam yang mendukung hehidupan manusia untuk hidup sejahtera. Juga  bermanfaat untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Melalui hal inilah yang membuat penulis tertarik mengajukan karya ilmiah dengan judul “KEANEKARRAGAMAN HAYATI HIPPOPUS PERCELLANUS KIMA CINA”.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana pertumbuhan kehidupan Hippopus Percellanus ?
2. Bagaimana cara melindungi biota laut billavia Hippopus Percellanus Kima Cina ?
3. Bagaimana latar belakang tentang Hippopus Percellanus ?



1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan terumbu karang di daerah perairan
2. Untuk mengetahui cara melindungi biota laut billavia Hippopus Percellanus Kima Cina
3. Untuk mengetahui bagaimana latar belakang tentang Hippopus Percellanus ?


1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi bahwa kehidupan di daerah perairan harus selalu dilestarikan
2. Memberikan informasi untuk selalu melindungi biota laut yang sudah hamper punah
3. Bukan hanya terumbu karang tapi hewan lain atau tumbuhan lain juga perlu dilestarikan

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

Species Spotlight: Hippopus Percellanus

 

 
Kingdom:
Phylum:
Class:
Order:
Family:
Genus:
Species:
H. porcellanus
Hippopus porcellanus
Rosewater, 1982
2.1 Pengertian Hippopus porcellanus
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas karena itu mereka mengalami penangkapan yang berlebihan dan keruntuhan dari sediaan alami di banyak tempat dan pemusnahan dalam beberapa spesies.
Hippopus porcellanus , china atau porselin kerang. Jenis ini memiliki kulit halus dari H. hippopus dan umumnya mencapai <50 cm shell. Penyaluran alamiah dari spesies ini adalah Indonesia bagian timur, selatan Filipina, Palau, dan Papua Nugini. ini telah dibudidayakan di Pulau, Filipina dan Indonesia, tetapi tetap menjadi spesies langka. Dr Braley mengambil foto ini induk dikumpulkan dari terumbu di sekitar Pulau Barrang Lompo, Jadi. Sulawesi, Indonesia pada pertengahan 90an.


 Lingkungan Alam:
 Mendiami terumbu karang dangkal berpasir dan daerah reruntuhan dekat rataan terumbu
Peternakan Umum:
Rentang temperatur 72-83 ° F (22-28 ° C). Mirip dengan H. Hippopus dan T. derasa , namun memiliki cangkang lebih tipis dan halus shell banyak. Jarang diimpor dan di alam liar, melayani makanan orang sebagai ‘atau item shell untuk perdagangan suvenir. Memerlukan dikelola gerakan air ringan dan sedang
Ekologi
Hippopus porcellanus adalah jenis Kima kerang yang adalah penduduk umum Indo-Pasifik terumbu karang bentik masyarakat di perairan dangkal. Mereka tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Pada siang hari, kima membesar sehingga mantel ganggang mereka menerima sinar matahari yang mereka butuhkan untuk photosynthesize, sedangkan pigmen warna melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV. Mereka mendapatkan sebagian besar (70-100%) gizi mereka dari ganggang dan sisanya dari filter makan. Bila terganggu, kerang menutup cangkangnya. Pendapat populer bahwa mereka berbahaya bagi penyelam yang terjebak atau terluka di antara cangkang menutup tajam bermata tidak benar, karena sebagai reaksi penutupan cukup lambat. ukuran besar dan mudah aksesibilitas karena itu mereka mengalami penangkapan yang berlebihan dan keruntuhan dari sediaan alami di banyak tempat dan pemusnahan dalam beberapa spesies
Tridacna memiliki dua katup (kerang), seperti kerang normal. Perbedaan utama antara kerang normal dan tridacnids adalah adanya zooxanthellae. Mantel dari kerang meningkatkan luas permukaan yang tersedia untuk eksposur terhadap cahaya. Mantel ini merupakan perpanjangan dari dan exhalent sifon inhalansia dan juga disebut sebagai jaringan siphonal. Mantel ini berisi sebagian besar zooxanthellae serta sel tetap disebut iridophores yang mengandung pigmen. Pigmen ini terutama dalam kisaran warna biru untuk coklat atau hijau kuning. Kombinasi pigmen dan mereka adalah alasan untuk berbagai warna dan pola yang ditemukan dalam kerang. Fungsi utama pigmen adalah untuk melindungi kerang terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi UV.
Jika kerang tidak menerima intensitas cahaya yang tepat dan berkualitas, mereka akan kehilangan warna-warna cerah mereka. Hal ini dapat terjadi sangat cepat. Ketika mereka kehilangan warna-warna cerah, warna cokelat zooxanthellae menjadi terlihat. Kecuali kondisi ditingkatkan segera, zooxanthellae dapat mulai menghilang juga, dan kerang akan berlangsung pada warna cokelat keputihan. Kondisi ini disebut pemutihan dan sekali ini terjadi, kematian akan mengikuti. Pencahayaan yang tidak benar tidak selalu menyebabkan pemutihan. Kima Dikelantang telah dilaporkan di bawah lampu halida logam intens. Pencahayaan ini biasanya ideal, tetapi pemutihan masih mungkin terjadi saat yodium telah habis. Kebanyakan kerang memenuhi kebutuhan gizi mereka dengan, antara lain, filter makan dan menyerap senyawa organik terlarut dari air. Kima Tridacnid telah melangkah lebih jauh dari ini dengan menggunakan zooxanthellae untuk memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri.
Reproduksi dan Pertumbuhan
Ketika Tridacnid kima pertama mencapai kematangan seksual, mereka adalah jantan dan kemudian menjadi banci simultan sekitar satu tahun kemudian. Hal ini membuat tridacnids protandric. Kima mencapai kematangan seksual penuh pada sekitar 5 sampai 7 tahun menurut Reef Aquarium Volume Satu. Tapi, menurut The Secret Of The Giant Clam oleh Annie Mercier dan Jean-Francois Hamel yang muncul di Air Tawar Dan Marine Aquarium’s Mei 1996 masalah, kematangan seksual dicapai dalam 3 sampai 5 tahun. Setiap spesies matang pada usia yang berbeda. Beberapa kerang menjadi seksual dewasa sebagai laki-laki dalam waktu dua tahun dan kemudian akan secara bertahap mendapatkan gonad betina.
Meskipun kerang memiliki organ kelamin betina dan jantan pada saat jatuh tempo, pelepasan sperma dan telur yang terpisah. Hal ini untuk mencegah pembuahan diri sendiri, meskipun tidak dijamin untuk melakukannya. Biasanya, sperma dilepaskan pertama dan kemudian telur.
Pertumbuhan selama tahun pertama adalah relatif lambat. Setelah tahun pertama, pertumbuhan meningkat pesat untuk spesies yang lebih besar. Tingkat pertumbuhan spesies yang lebih kecil ‘melambat. Pertumbuhan dan tingkat kalsifikasi juga lambat sebagai kerang menjadi seksual dewasa.
Tridacnids dapat hidup selama 8 sampai 200 tahun tergantung pada spesies menurut Reef Aquarium Volume Satu. Namun, hanya 20 sampai 100 tahun menurut The Secret Of The Giant Clam oleh Annie Mercier dan Jean-Francois Hamel yang muncul di Air Tawar Dan Marine Aquarium’s Mei 1996 masalah. Yang membentuk pita kima pertumbuhan musiman di kulit mereka sehingga memungkinkan untuk bagian usia kerang mati. Telah dicatat dalam The Reef Aquarium Volume Satu yang sedikit bekerja sangat telah dilakukan pada ukuran usia.
            Kerang cina Hippopuus Percellanus adalah jenis kerang dalam keluarga Tridacnidae, hal ini di temukan di Indonesia, Pala, Fhilipina. Ada 2 jenis Kima Raksasa yang hippopus Kima. H. Hippopus adalah kima raksasa hardi yang mudah menyesuaikan ddiri kepada suatu iklim dan menjaga di aquarium rumah, asalkan diberikan cukup ruang untuk tumbuh. Relatif dekat . Cina Clam H Porcellanus tidak umum di industry aquarium, namun kedua kima raksasa secara tradisional dipanen untuk daging mereka, dan mereka juga sangat berharga untuk cangkangnya. Hippopus Percellanus telah disebarkan dipenangkaran dan merupakan kerang relative mudah berkembang biak dalam system akua kultur. Mewarnai specimen dibudidayaknan menjadi lebih dan lebih menarik dan banyak memiliki striping hijau limau yang kuat. Permintaan dari aquarists telah menaikkan suku bunga dalam memproduksi varietas warna warni dari semua spesies kima raksasa.

Potensi Masalah :

             Mengawasi keluar untuk predator, Clam Hippopus dapat mangsa mudah dengan membuka kelenjar besar dan luas byssus nya. Mereka juga sangat sensitif terhadap bahan kimia atau zat-zat beracun dilarutkan dalam air, jadi pastikan untuk menjaga kualitas air yang baik. Seperti yang disebutkan di bawah perawatan akuarium dan parameter akuarium di atas, pH tinggi, salinitas tinggi, dan suhu tinggi juga dapat menyebabkan masalah.

Ketersediaan
            Meskipun begitu langka dalam perdagangan akuarium dan jarang ditemukan di toko ikan atau tangki hobi, hari ini kima Hippopus diperoleh dari sistem akuakultur menjadi lebih mudah tersedia dan sangat kuat di akuarium terumbu karang. Menurut Volume Aquarium Reef Satu oleh J. Charles Delbeek dan Julian bermunculan, H. hippopus ditawarkan untuk dijual kepada kolektor di Amerika Utara adalah produk dari program budidaya. Tidak ada yang liar tertangkap.

2.2 Tabel Spesies yang Dilindungi
Daftar Spesies Laut Yang Dilindungi di Indonesia
Berdasarkan  PP No. 7 Tahun 1999
(sumber: http://www.terangi.or.id; http://en.wikipedia.org)
MOLLUSCA
Suku
Nama Latin
Nama Lokal
Nama Internasional
Tridacnidae
Hippopus hippopus
Kima tapak kuda
Horse's Hoof, Bear Paw
Hippopus porcellanus
Kima cina
China Clam
Tridacna crocea
Kima kunia, Lubang
Crocus, Safron colored-Giant Clam
Tridacna derasa
Kima selatan
Southern-Giant Clam
Tridacna gigas
Kima raksasa
Giant Clam
Tridacna maxima
Kima kecil
Maxima Clam
Tridacna squamosa
Kima sisik, kima seruling
Scaly, Fluted-Giant Clam
Ranellidae
Charonia tritonis
Triton terompet
Trumpet Triton
Cassidae
Cassis cornuta
Kepala kambing
Horned Helmet
Trochidae
Trochus niloticus
Susu bunder
Top Shell
Turbo marmoratus
Batu laga, siput hijau
Green Shell, Turban Shell
Nautilidae
Nautilus pompillus
Nautilus berongga
Pearly-Chambered Nautilus


BAB III
METODE PENELITIAN 
 
3.1 Jenis Penelitian
 
               Jenis penelitian yang di pakai oleh penulis adalah Penelitian Study Pustaka yaitu dengan mencari 
sumber-sumber dari internet. Penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti bagaimana usaha untuk melestarikan
 
keanekaragaman hayati di Indonesia seperti Hippopus porcellanus Kima Cina.
 
 
3.2  Kehidupan kerang
 
               Jika kerang tidak menerima intensitas cahaya yang tepat dan berkualitas, mereka akan kehilangan 
warna-warna cerah mereka. Hal ini dapat terjadi sangat cepat. Ketika mereka kehilangan warna-warna cerah,
warna cokelat zooxanthellae menjadi terlihat. Kecuali kondisi ditingkatkan segera, zooxanthellae dapat mulai
menghilang juga, dan kerang akan berlangsung pada warna cokelat keputihan. Kondisi ini disebut pemutihan 
dan sekali ini terjadi, kematian akan mengikuti. Pencahayaan yang tidak benar tidak selalu menyebabkan
pemutihan. Kima Dikelantang telah dilaporkan di bawah lampu halida logam intens. Pencahayaan ini biasanya
ideal, tetapi pemutihan masih mungkin terjadi saat yodium telah habis. Kebanyakan kerang memenuhi
kebutuhan gizi mereka dengan, antara lain, filter makan dan menyerap senyawa organik terlarut dari air. 
Kima Tridacnid telah melangkah lebih jauh dari ini dengan menggunakan zooxanthellae untuk memproduksi 
makanan untuk diri mereka sendiri
 
 
3.3 Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati Indonesia
 
               Kepunahan jenis hewan dan tumbuhan  dalam suatu ekosistem dapat terjadi karena bencana alam, 
misalnya, banjir,  gunung meletus, dan kebakaran. Kita tidak dapat meniadakan bencana alam, tetapi kita
 dapat mengurangi akibat buruk yang ditimbulkannya. Kepunahan jenis hewan dan tumbuhan dapat dikurangi 
dengan melakukan pelestarian suber daya alam. Adapun pelestarian sumber daya alam hayati dapat dilakukan
 dengan cara in-situ dan ex-situ. Cara melestarikan Hippopus porcellanus hanya dengan cara menjaganya agar
 tidak punah.tetapi akan lebih baik dengan cara in-situ dan jangan pernah sekali-kali merusaknya.
 
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN ANALISA
 
 
4.1 Hasil Penelitian dan analisa
 
Biota yang dilindungi adalah : jenis-jenis mahluk hidup yang dilindungi, baik yang berada di darat 
maupun yang berada di laut seperti Hippopus Percellanus , dan Mengapa dilindungi :
• Sulit berkembang biak
• Populasinya menurun drastic
• Ancaman manusia yang mengeksploitasi berlebihan, contoh
• Ancaman manusia dari pembukaan lahan/penyempitan habitat[/b]
Dasar-dasar peraturan
• UU Kehati No. 5 Tahun 1994 Keanekaragaman diantara mahkluk hidup dari semua sumber termasuk diantaranya daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain, serta komplek-komplek ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragaman, mencakup keanekaragaman dalam spesies, antara spesies dengan ekosistem
• UU Konservasi No. 5 Tahun 1990 : Barang siapa yang mengambil, memiliki, membunuh, melukai, menyimpan, memelihara, mengangkut, memperdagangkan, satwa yang dilindungi tanpa izin, dipidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000 (Seratus juta rupiah). Undang-undang 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.


BAB V
PENUTUP
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
            Dari penelitian yang telah kami lakukan, saya dapat menyimpulkan bahwa ada banyak cara melestarikan keanekaragaman hayati seperti dengan cara menjaganya agar tidak punah. Bukan hanya gejala alam tetapi juga ulah manusia juga berdampak besar dalam berlangsungnya kehidupan biota laut.  Saya juga dapat enyimpulkan bahwa ada banyak cara untuk memberikan layanan atau melestarikan dan menjaga keanekaragaman hayati seperti Hippos Percellanus. Dan kami juga dapat mengetahui sedetail-detailnya tentang Hippopus Percellanus.

 5.2  Saran
            Saran yang dapat penulis berikan untuk semua masyarakat, untuk melestarikan biota laut adalah sebagai berikut :
1.      Perlindunan alam ketat
2.      Perlindungan alam terbimbing
3.      Perlindungan botani